| No | Judul & Abstrak | Penulis & Afiliasi | Jurnal & Edisi | Metadata |
|---|---|---|---|---|
| 101 |
PENGELOLAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH MELALUI OPSEN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UNDANG - UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2022 DI PROVINSI SUMATERA UTARA
Lihat AbstrakAbstract: Locally-Generated Revenue (PAD) serves as a crucial indicator for measuring regional fiscal independence. In North Sumatra Province, the Motor Vehicle Tax (PKB) is a primary source of PAD, contributing dominantly to regional tax receipts. Following the enactment of Law Number 1 of 2022 concerning Financial Relations between the Central Government and Regional Governments (UU HKPD), a PKB *opsen* (additional tax levy/surcharge) policy was introduced to replace the Revenue-Sharing Fund (DBH) scheme, aiming to enhance the effectiveness of regional revenue collection and strengthen the fiscal independence of regency and city governments. This study aims to analyze PAD management through the PKB *opsen* in North Sumatra Province, examine the pre-existing PKB revenue-sharing allocation procedures, and project the impact of the PKB *opsen* policy implementation on regional revenue. The study employs a socio-legal (empirical-juridical) method, utilizing both statutory and field-based approaches. Data were gathered through literature reviews, analysis of laws and official government documents, and interviews with stakeholders involved in regional tax management in North Sumatra Province. The findings indicate that the previous PKB revenue-sharing scheme faced various obstacles, particularly delays in fund disbursement to regency and city governments caused by lengthy bureaucratic procedures. Implementing the PKB *opsen* has the potential to improve the efficiency of tax revenue distribution through direct disbursement mechanisms into regency/city treasuries, thereby accelerating PAD receipt and bolstering regional fiscal independence. Conversely, potential challenges exist, such as uncertain public perception regarding the tax burden and a possible decline in gross revenue at the provincial level. Therefore, the successful implementation of the PKB *opsen* requires synergy among the provincial government, regency/city governments, the police, and relevant agencies to enhance taxpayer compliance and optimize regional tax revenue management. Keywords: Locally-Generated Revenue, Motor Vehicle Tax, Tax *Opsen* (Additional Levy), Revenue-Sharing Fund, Fiscal Independence, North Sumatra Province. Abstrak: Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan indikator penting dalam mengukur kemandirian fiskal daerah. Di Provinsi Sumatera Utara, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menjadi salah satu sumber utama PAD dengan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan pajak daerah. Seiring berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD), diperkenalkan kebijakan opsen PKB sebagai pengganti skema Dana Bagi Hasil (DBH) guna meningkatkan efektivitas penerimaan daerah dan memperkuat kemandirian fiskal pemerintah kabupaten/kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan PAD melalui opsen PKB di Provinsi Sumatera Utara, mengkaji prosedur alokasi DBH PKB sebelum berlakunya opsen, serta memproyeksikan dampak implementasi kebijakan opsen PKB terhadap penerimaan daerah. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan lapangan. Data diperoleh melalui studi kepustakaan, analisis peraturan perundang-undangan, dokumen resmi pemerintah, serta wawancara dengan pihak terkait dalam pengelolaan pajak daerah di Provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema DBH PKB yang berlaku sebelumnya masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterlambatan penyaluran dana kepada pemerintah kabupaten/kota akibat prosedur birokrasi yang panjang. Penerapan opsen PKB berpotensi meningkatkan efisiensi distribusi penerimaan pajak melalui mekanisme penyaluran langsung ke kas daerah kabupaten/kota, sehingga mempercepat penerimaan PAD dan memperkuat kemandirian fiskal daerah. Di sisi lain, terdapat potensi tantangan berupa ketidakpastian persepsi masyarakat terhadap beban pajak serta kemungkinan penurunan penerimaan bruto di tingkat provinsi. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi opsen PKB memerlukan sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kepolisian, dan instansi terkait untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta mengoptimalkan pengelolaan penerimaan pajak daerah. Kata Kunci: Pendapatan Asli Daerah, Pajak Kendaraan Bermotor, Opsen Pajak, Dana Bagi Hasil, Kemandirian Fiskal, Provinsi Sumatera Utara. |
EKA N.A.M. Sihombing (Universitas Sumatera Utara); Mirza Nasution (Universitas Sumatera Utara); Azis Salim (Universitas Sumatera Utara) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4732-4742 [PDF] |
| 102 |
PENGARUH RETURN ON ASSETS (ROA), RETURN ON EQUITY (ROE), DEBT TO EQUITY RATIO (DER) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR BASIC MATERIAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to analyze the effect of Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), and Debt to Equity Ratio (DER) on firm value in Basic Materials sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period 2021–2023. Firm value is proxied by Price to Book Value (PBV). The data used are secondary data obtained from annual financial statements. The sample consisted of 15 companies over a three-year observation period (2021–2023), resulting in 45 observations selected using purposive sampling. The analysis technique used was multiple linear regression analysis along with classical assumption tests. The results showed that partially, Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), and Debt to Equity Ratio (DER) do not have a significant effect on firm value, with significance values of 0.641, 0.248, and 0.644 (>0.05), respectively. Simultaneously, ROA, ROE, and DER have a significant effect on firm value, with an Fcount value of 3.664 > Ftable 2.83 and a significance value of 0.020 < 0.05. The Adjusted R Square value is 0.154, which means that 15.4% of the variation in firm value can be explained by ROA, ROE, and DER, while the remaining 84.6% is influenced by other variables outside the research model. Keywords: Return on Assets, Return on Equity, Debt to Equity Ratio, Firm Value, Price to Book Value Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor Basic Materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2023. Nilai perusahaan diproksikan dengan Price to Book Value (PBV). Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan. Sampel penelitian terdiri dari 15 perusahaan dengan masa pengamatan selama 3 tahun (2021–2023) sehingga diperoleh 45 pengamatan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,641; 0,248; dan 0,644 (>0,05). Namun secara simultan, ROA, ROE, dan DER berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan nilai Fhitung 3,664 > Ftabel 2,83 dan nilai signifikansi 0,020 < 0,05. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,154 yang berarti bahwa 15,4% variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh ROA, ROE, dan DER, sedangkan 84,6% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian. Kata kunci: Return on Assets, Return on Equity, Debt to Equity Ratio, Nilai Perusahaan, Price to Book Value |
Hamida Sari Siregar (Universitas Asahan); Fita Rizki (Universitas Asahan) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 2 (2026) |
Hal: 3041-3049 [PDF] |
| 103 |
PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA), GROSS PROFIT MARGIN (GPM) DAN NET PROFIT MARGIN (NPM) TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to analyze the simultaneous and partial effects of Return on Assets (ROA), Gross Profit Margin (GPM), and Net Profit Margin (NPM) on Stock Prices in Mining Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). The data used are secondary data. The sample consisted of 25 companies during the 2023–2025 period, resulting in 75 observations. The research employed a quantitative method using multiple linear regression analysis. The results of the F-test showed that ROA, GPM, and NPM simultaneously have a significant effect on Stock Prices with an Fcount value of 3.821 > Ftable 2.73. The results of the t-test showed that ROA has a positive and significant effect on Stock Prices with a tcount value of 2.979 > ttable 1.99346. GPM does not have a significant effect on Stock Prices with a -tcount value of -1.643 > -ttable -1.99346. Meanwhile, NPM has a positive and significant effect on Stock Prices with a tcount value of 2.227 > ttable 1.99346. The Adjusted R Square value is 0.103, which means that 10.3% of the variation in Stock Prices can be explained by ROA, GPM, and NPM, while the remaining 89.7% is influenced by other variables outside the research model. Keywords: Return on Assets, Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Stock Prices Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial Return On Asset (ROA), Gross Profit Margin (GPM) dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah sampel 25 perusahaan pada periode 2023 – 2025 dengan jumlah 75 pengamatan. Metode penelitian kuantitatif serta menggunakan regresi linier berganda. Hasil Uji F secara simultan variabel ROA, GPM dan NPM berpengaruh terhadap Harga Saham dengan nilai Fhitung (3.821) > Ftabel (2.73). Hasil Uji t, variabel ROA berpengaruh positif terhadap Harga Saham dengan nilai thitung (2.979) > ttabel (1.99346), variabel GPM tidak berpengaruh terhadap Harga Saham dengan nilai -thitung (-1.643) > -ttabel (-1.99346) dan variabel NPM berpengaruh positif terhadap Harga Saham dengan nilai thitung (2.227) > ttabel (1.99346). Uji R2, nilai adjusted R square adalah sebesar 0.103 artinya 10.3 % variabel Harga Saham yang bisa dijelaskan oleh variasi dari ketiga variabel independen yaitu ROA, GPM dan NPM sedangkan sisanya 89.7 % dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian ini. Kata kunci: Return on Assets, Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Harga Saham |
Hamida Sari Siregar (Universitas Asahan); Arti Syahfitri (Universitas Asahan) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 2 (2026) |
Hal: 3032-3040 [PDF] |
| 104 |
PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO, DEBT TO ASSET RATIO DAN CURRENT RATIO TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SUB SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to determine the partial and simultaneous influence of Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio and Current Ratio on Financial Performance in Banking Sub-Sector Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange. The number of population samples of 48 companies and samples of 15 companies multiplied by 3 observation years 2022-2024 to 45 samples. However, from the 40 samples, 3 samples were found from outlier observations so that they were eliminated as samples, then data was obtained as many as 42 samples. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results of the t-test, partially the Debt to Equity Ratio had a positive effect on financial performance with a tcal value of 2.331 > ttable 2.022 and a significance of 0.025 < 0.05. Debt to Asset Ratio partially has a negative effect on Financial Performance with a value of -tcal (-3.120) < -ttable (-2.022) with a significance value of 0.003 < 0.05. Meanwhile, the Current Ratio has a negative effect on financial performance with a value of -tcal (-3.498) < -ttable (-2.022) with a significance value of 0.001 < 0.05. Meanwhile, the results of the F Test simultaneously show that the Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, and Current Ratio variables have an effect on Financial Performance with a Calculation value of 6.768 > 2.85 F and a significance value of 0.001 < 0.005. The R2 test, the Adjusted R Square value produced a value of 0.297, meaning that the correlation of all independent variables consisting of Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, and Current Ratio to the dependent variable, namely financial performance, was 29.7% while the remaining 70.3% was influenced by other factors that were not included in this research model. Keywords: Debt to Equity Ratio, Debt To Equity Ratio, Current Ratio, Financial Performance Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parsial dan simultan dari Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio dan Current Ratio terhadap Kinerja Keuangan pada Perusahaan Sub Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah sampel penduduk 48 perusahaan dan sampel 15 perusahaan dikalikan 3 tahun observasi 2022-2024 menjadi 45 sampel. Namun, dari 40 sampel tersebut, ditemukan 3 sampel dari pengamatan outlier sehingga dieliminasi sebagai sampel, kemudian diperoleh data sebanyak 42 sampel. Analisis data menggunakan Regresi Linier Berganda. Hasil uji t, sebagian Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dengan nilai thitung 2,331 > ttabel 2,022 dan signifikansi 0,025 < 0,05. Debt to Asset Ratio berpengaruh negatif terhadap Kinerja Keuangan dengan nilai -thitung (-3,120) < -ttable (-2,022) dengan nilai signifikansi 0,003 < 0,05. Sementara itu, Current Ratio berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan dengan nilai -thitung (-3,498) < -ttable (-2,022) dengan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Sementara itu, hasil Uji F secara simultan menunjukkan bahwa variabel Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, dan Current Ratio berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan dengan nilai Perhitungan 6,768 > 2,85 F dan nilai signifikansi 0,001 < 0,005. Uji R2, nilai R Square yang Disesuaikan menghasilkan nilai 0,297, artinya korelasi seluruh variabel independen yang terdiri dari Debt to Equity Ratio, Debt to Asset Ratio, dan Current Ratio terhadap variabel dependen yaitu kinerja keuangan sebesar 29,7% sedangkan sisanya 70,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. Kata kunci: Rasio Utang Terhadap Ekuitas, Rasio Utang Terhadap Ekuitas, Rasio Lancar, Kinerja Keuangan |
Hamida Sari Siregar (Universitas Asahan); Ardella Anggraini Simanjuntak (Universitas Asahan) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 2 (2026) |
Hal: 3023-3031 [PDF] |
| 105 |
PENGARUH DIVIDEND PAYOUT RATIO (DPR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER) DAN EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA SUB SEKTOR INDUSTRIAL GOODS YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to determine the partial and simultaneous influence of Dividend Payout Ratio (DPR), Debt to Equity Ratio (DER) and Earning Per Share (EPS) on Company Value in the Industrial Goods Sub-Sector listed on the Indonesia Stock Exchange. The number of samples of 10 companies in the 2022-2024 period with a total of 30 observations. Data analysis used multiple linear regression. The results of the t-test, partially of the DPR had a negative effect on the Company's Value with a value -t_hitung of (-3.539) < (-2.05183) t tabel and a significance of 0.002 < 0.05. DER partially had no effect on the Company's Value with a value of 0.026 t hitung < 2.05183 t tabel with a significance value of 0.980 > 0.05. Meanwhile, EPS partially had a negative effect on Company Value with a value -t_hitung of (-3.862) < (-2.05183) and a significance of 0.002 < 0.05. Meanwhile, the results of the F test simultaneously show that the variables DPR, DER and EPS have an effect on the Company's Value with an F value f hitung of 6.144 > 2.98 Ftables and a significance value of 0.003< 0.05. The R2 test, the Adjusted R Square value produced a value of 0.347, meaning that the correlation of all independent variables consisting of Dividend Payout Ratio, Debt to Equity Ratio and Earning Per Share to the dependent variable, namely the company value was 34.7% while the remaining 65.3% was influenced by other factors that were not included in this research model. Keywords: Dividend Payout Ratio, Debt To Equity Ratio, Earning Per Share, Company Values Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan Dividend Payout Ratio (DPR), Debt To Equity Ratio (DER) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Nilai Perusahaan Pada Sub Sektor Industrial Goods Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jumlah sampel 10 perusahaan pada periode 2022-2024 dengan jumlah pengamatan 30 pengamatan. Analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil uji t, secara parsial DPR berpengaruh secara negatif terhadap Nilai Perusahaan dengan nilai -t_hitung (-3,539) < -t_tabel (-2,05183) dan signifikansi sebesar 0,002 < 0,05. DER secara parsial tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan dengan nilai t_hitung 0,026 < 2,05183 t_tabel dengan nilai signifikansi sebesar 0,980 > 0,05. Sedangkan EPS secara parsial berpengaruh secara negatif terhadap Nilai Perusahaan dengan nilai -t_hitung (-3,862) < -t_tabel (-2,05183) dan signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Sedangkan hasil uji F secara simultan bahwa variabel DPR, DER dan EPS berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan dengan nilai Fhitung 6,144 > 2,98 Ftabel dan nilai signifikansi 0,003< 0,05. Uji R2, nilai Adjusted R Square menghasilkan nilai 0,347 artinya korelasi seluruh variabel independen yang terdiri Dividend Payout Ratio, Debt to Equity Ratio dan Earning Per Share terhadap variabel dependen yaitu nilai perusahaan adalah sebesar 34,7% sedangkan sisanya 65,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. Kata kunci: Dividend Payout Ratio, Debt To Equity Ratio, Earning Per Share, Nilai Perusahaan |
Hamida Sari Siregar (Universitas Asahan); Aprilia Wulandari Br Lumban Tobing (Universitas Asahan) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 2 (2026) |
Hal: 1276-1284 [PDF] |
| 106 |
KLASIFIKASI LEVEL KUALITAS UDARA MENGGUNAKAN METODE DECISION TREE UNTUK MENDUKUNG SDGS
Lihat AbstrakAbstract: Air quality is a critical environmental issue that directly affects public health and urban sustainability. This study aims to develop an air quality classification model using the Decision Tree algorithm based on key pollutant parameters such as PM₁₀, PM₂.₅, SO₂, CO, NO₂, and O₃, and to evaluate its contribution to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). The dataset was obtained from air quality monitoring in Jakarta during 2021 and underwent preprocessing stages including data cleaning and feature selection. The model was tested across various training-testing ratios, with the highest accuracy of 97.50% achieved at a 60:40 ratio. Performance evaluation showed precision, recall, and F1-score values above 97%, with PM₂.₅ and PM₁₀ identified as the most influential attributes in classification. The Decision Tree model was chosen for its ability to produce accurate results while remaining interpretable. The classification outcomes can be utilized in early warning systems, public education, and data-driven policymaking. These findings support the achievement of SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), and SDG 13 (Climate Action). Keywords: Air Quality; Decision Tree; pollution; SDG; Classification. Abstrak: Kualitas udara merupakan isu lingkungan krusial yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan keberlanjutan kota. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model klasifikasi kualitas udara menggunakan algoritma Decision Tree berdasarkan parameter polutan utama seperti PM₁₀, PM₂.₅, SO₂, CO, NO₂, dan O₃, serta menganalisis kontribusinya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Data yang digunakan berasal dari pemantauan kualitas udara di Jakarta tahun 2021 dan telah melalui tahap pra-pemrosesan, termasuk pembersihan data dan seleksi fitur. Model diuji pada berbagai rasio data latih dan uji, dengan akurasi tertinggi sebesar 97,50% pada rasio 60:40. Evaluasi performa menunjukkan nilai presisi, recall, dan F1-score di atas 97%, dengan PM₂.₅ dan PM₁₀ sebagai atribut paling berpengaruh dalam klasifikasi. Model Decision Tree dipilih karena kemampuannya dalam menghasilkan output yang akurat sekaligus mudah diinterpretasikan. Hasil klasifikasi ini berpotensi digunakan dalam sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, dan pengambilan kebijakan berbasis data. Temuan ini mendukung pencapaian SDG 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), SDG 11 (kota dan permukiman yang berkelanjutan), serta SDG 13 (penanganan perubahan iklim). Kata kunci: Kualitas Udara; Decision Tree; Polutan; SDGs; Klasifikasi. |
Lamtiur Sinambela (Politeknik Negeri Medan); Labuan Nababan (Universitas Satya Terra Bhinneka); M. Fachrurrozi Nasution (Universitas Satya Terra Bhinneka); Eri Triwanda (Universitas Satya Terra Bhinneka) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4724-4731 [PDF] |
| 107 |
PERAN MOTIVASI KERJA DALAM MEMEDIASI PENGARUH PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN SDM TERHADAP KINERJA KARYAWAN
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to analyze the role of work motivation in mediating the influence of human resource training and development on employee performance. This study used a quantitative approach with descriptive and verification methods. Data were obtained through questionnaires distributed to respondents and analyzed using regression and mediation tests. The results showed that human resource training and development had a positive and significant effect on employee performance and work motivation. Furthermore, work motivation also positively influenced employee performance and mediated the relationship between human resource training and development and employee performance. The findings of this study indicate that improved employee performance is not only influenced by increased competency through training but also by employee work motivation. Therefore, organizations need to implement human resource management strategies that simultaneously improve competency and work motivation to achieve optimal performance. Keywords: training and development, work motivation, employee performance. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran motivasi kerja dalam memediasi pengaruh pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden dan dianalisis menggunakan uji regresi serta uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan serta motivasi kerja. Selain itu, motivasi kerja juga berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan dan mampu memediasi hubungan antara pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan kompetensi melalui pelatihan, tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi kerja yang dimiliki karyawan. Oleh karena itu, organisasi perlu menerapkan strategi pengelolaan sumber daya manusia yang mampu meningkatkan kompetensi dan motivasi kerja secara bersamaan guna mencapai kinerja yang optimal. Kata kunci: pelatihan dan pengembangan, motivasi kerja, kinerja karyawan. |
Sunaryo (Universitas Harapan Medan); Christofel Situmorang (Universitas Harapan Medan); Refina Arthevia Pasha (Universitas Harapan Medan); Loris Situmorang (Universitas Harapan Medan) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4711-4715 [PDF] |
| 108 |
TERANSFORMASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN IMPLEMENTASI DALAM PENCEGAHAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH PADA PENDIDIKAN DASAR HINGGA MENENGAH: SISTEM LITERATUR RIVEW
Lihat AbstrakAbstract: Bullying behavior that occurs from elementary school to middle school is not only related to student behavior but also to the school's ability to implement prevention programs effectively and consistently. However, the literature discussing the relationship between transformational school leadership, school implementation capacity, and bullying prevention is still scattered across various concepts such as school climate, collective efficacy, teacher practices, principal responses, and whole-school approaches. This article aims to synthesize research on how transformational school leadership is positioned in relation to school implementation capacity for bullying prevention. A bibliometric-assisted systematic literature review was conducted using the Context, Intervention or Interest, Mechanism, and Outcome framework. The search was conducted in Scopus for publications from 2020 to 2026. The initial process identified 19 English-language records, retained 18 final journal articles after database screening, and used 10 key articles in the extraction matrix for narrative-integrative thematic synthesis. The review results show that school leadership is rarely portrayed as transformational leadership. Leadership emerges in the form of the principal's support, response to encountered problems, school vision, institutional leadership, and the principal's efforts in supporting the school's welfare. The capacity for school implementation emerges as a multidimensional construct involving the school climate, collective efficacy, teacher collaboration, shared practices, policy enforcement, reporting routines, and overall school coordination. This review concludes that bullying prevention should be understood as a process of school organizational capacity as a direct causal result of leadership. This study contributes to the examination of school principal leadership by clarifying how leadership-related conditions support anti-bullying practices at the school level. Keywords: bullying prevention, school principal leadership, school implementation capacity, systematic literature review, primary and secondary education. Abstrak: Perilaku perundungan yang terjadi mulai dari SD dan Sekolah menengah, tidak hanya berkaitan dengan perilaku siswa, tetapi berkaitan dengan kemampuan sekolah dalam menjalankan program pencegahan secara tepat sasaran dan konsisten. Namun, literatur yang membahas hubungan kepemimpinan kepala sekolah transformasional, kapasitas implementasi sekolah, dan pencegahan perundungan masih tersebar di berbagai konsep seperti, iklim sekolah, efikasi kolektif, praktik guru, respons kepala sekolah, dan pendekatan seluruh sekolah. Artikel ini bertujuan untuk mensintesis penelitian tentang bagaimana kepemimpinan kepala sekolah transformasional diposisikan dalam kaitannya dengan kapasitas implementasi sekolah untuk pencegahan perundungan. Tinjauan literatur sistematis yang dibantu bibliometrik dilakukan menggunakan kerangka kerja Konteks, Intervensi atau Minat, Mekanisme, dan Hasil. Pencarian dilakukan di Scopus untuk publikasi dari tahun 2020 hingga 2026. Proses awal mengidentifikasi 19 catatan berbahasa Inggris, mempertahankan 18 artikel jurnal akhir setelah penyaringan basis data, dan menggunakan 10 artikel utama dalam matriks ekstraksi untuk sintesis tematik naratif-integratif. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekola jarang diorasikan sebagai kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan muncul dalam bentuk dukungan kepala sekolah, respon terhadap masalah dihadapi, visi sekolah, kepemimpinan kelembagaan dan Upaya kepala sekolah dalam mendukung kesejahteraan sekolah. Kapasitas implementasi sekolah muncul sebagai konstruksi multidimensi yang melibatkan iklim sekolah, efikasi kolektif, kolaborasi guru, praktik bersama, pemberlakuan kebijakan, rutinitas pelaporan, dan koordinasi seluruh sekolah. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa pencegahan perundungan harus dipahami sebagai proses kapasitas organisasi sekolah sebagai hasil kausal langsung dari kepemimpinan. Studi ini berkontribusi pada kajian kepemimpinan kepala sekolah dengan mengklarifikasi bagaimana kondisi terkait kepemimpinan mendukung praktik anti-perundungan di tingkat sekolah. Kata kunci: pencegahan perundungan, kepemimpinan kepala sekolah, kapasitas implementasi sekolah, tinjauan literatur sistematis, pendidikan dasar dan menengah. |
Ni Nyoman Trisna Herawati (Universitas Pendidikan Ganesha); Putu Nanci Riastini (Universitas Pendidikan Ganesha); Putu Kerti Nitiasih (Universitas Pendidikan Ganesha); Oktaviana Nirmala Purba (Universitas Pendidikan Ganesha); Oktaviana Nirmala Purba (Universitas Pendidikan Ganesha); Oktaviana Nirmala Purba (Universitas Pendidikan Ganesha); Oktaviana Nirmala Purba (Universitas Pendidikan Ganesha) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4611-4626 [PDF] |
| 109 |
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DEBITOR DALAM RENCANA PERDAMAIAN YANG TELAH MEMENUHI SYARAT KUORUM RAPAT KREDITOR (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 301 K/Pdt.Sus-Pailit/2021)
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to analyze the legal protection afforded to debtors whose composition plans have fulfilled the quorum requirements in creditors' meetings based on the Supreme Court Decision Number 301 K/Pdt.Sus-Pailit/2021. This research employed a normative juridical method with a descriptive-analytical approach through library research using primary, secondary, and tertiary legal materials. The analysis focused on the provisions of Law Number 37 of 2004 concerning Bankruptcy and Suspension of Debt Payment Obligations and the relevant court decisions. The findings indicate that a composition plan satisfying the quorum requirements under Article 281 of Law Number 37 of 2004 must be ratified through homologation and is legally binding on all creditors, including those who oppose the plan. The Supreme Court Decision Number 301 K/Pdt.Sus-Pailit/2021 confirms that fulfilling the quorum requirements provides legal certainty and protection for debtors to restructure their debts and continue business operations without being declared bankrupt. The decision also reflects a balance between protecting creditors' rights and maintaining the debtor's business continuity in accordance with the objectives of the suspension of debt payment obligations. Keywords: Legal Protection; Debtor; Suspension of Debt Payment Obligations; Creditors' Meeting Quorum; Homologation. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap debitor dalam rencana perdamaian yang telah memenuhi syarat kuorum rapat kreditor berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 301 K/Pdt.Sus-Pailit/2021. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan deskriptif analitis melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis dilakukan terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang serta putusan pengadilan yang menjadi objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rencana perdamaian yang telah memenuhi syarat kuorum sebagaimana diatur dalam Pasal 281 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 wajib memperoleh pengesahan (homologasi) dan mengikat seluruh kreditor, termasuk kreditor yang tidak menyetujuinya. Putusan Mahkamah Agung Nomor 301 K/Pdt.Sus-Pailit/2021 menegaskan bahwa pemenuhan kuorum memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi debitor untuk melakukan restrukturisasi utang serta melanjutkan kegiatan usahanya tanpa harus dinyatakan pailit. Putusan tersebut juga mencerminkan keseimbangan antara perlindungan hak kreditor dan keberlangsungan usaha debitor sesuai tujuan PKPU. Kata kunci: Perlindungan Hukum; Debitor; PKPU; Kuorum Rapat Kreditor; Homologasi. |
Dedi Harianto (Universitas Sumatera Utara); Sunarmi Sunarmi (Universitas Sumatera Utara); Josua Gabriel Stivano Sirait (Universitas Sumatera Utara) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4879-4885 [PDF] |
| 110 |
PEMETAAN POTENSI BENCANA DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK PROGRAM KAMPUS SIAGA BENCANA (KSB) DI UNIVERSITAS DHYANA PURA BALI
Lihat AbstrakAbstract: Campuses, as places of higher education, play a vital role not only as pioneers in disaster risk mitigation but also as agents of community education. Campuses need to have disaster risk profiles, mitigation action plans, emergency response coordination systems, and inter-campus networks to support disaster resilience. Given the significant potential for disaster vulnerability in Indonesia, including Bali, campuses are expected to serve as examples of disaster-responsive institutions through the development of Disaster Risk Assessments (KRB).The study results indicate that the Dhyana Pura Campus is at a safe level for tsunami hazards because, according to the Disaster Risk Assessment (KRB) mapping, the campus area falls outside the high, medium, and low levels. However, increasing campus preparedness capacity is crucial for disaster risk reduction, as the impacts not only cause physical losses but also impact non-physical aspects. Community-based disaster risk reduction is a crucial element in disaster risk reduction. The second digitization of the KRB earthquake vulnerability mapping shows that the Dhyana Pura Campus is at a moderate level. Bali's earthquake vulnerability is due to its geographic location at the confluence of active tectonic plates and the presence of active local faults. Research conducted by Dhyana Pura University indicates that the tsunami hazard zone is at a safe level and the earthquake hazard zone is at a moderate level. Keywords: Spatial Analysis, Disaster, Earthquake, KRB, Mitigation Abstrak: Kampus merupakan tempat Pendidikan tinggi yang memiliki peran vital, tidak hanya sebagai pelopor mitigasi risiko bencana, tetapi juga sebagai agen edukasi bagi masyarakat. Kampus perlu memiliki profil risiko bencana, perencanaan aksi mitigasi, sistem koordinasi tanggap darurat, dan jejaring antar kampus untuk mendukung ketahanan bencana. Mengingat besarnya potensi kerentanan bencana yang dapat terjadi di Indonesia termasuk wilayah di Bali maka kampus diharapkan mampu menjadi contoh penerapan lembaga yang tanggap terhadap bencana melalui penyusunan Kajian resiko bencana (KRB). Dari hasil penelitian menunjukan bahawa Kampus Dhyana Pura berada pada level aman bahaya tsunami dikarenakan wilayah kampus sesuai dengan gambar pemetaan Kawasan rawan bencana (KRB) berada di luar level tinggI, sedang dan rendah. Namun peningkatan kapasitas kesiapsiagaan kampus menjadi penting untuk dilakukan sebagai upaya pengurangan risiko bencana karena dampak yang ditimbulkan bukan hanya memberikan kerugian pada aspek fisik, melainkan juga berdampak kepada aspek non-fisik. Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas menjadi salah satu elemen yang paling penting dalam mengurangi risiko bencana. Dari hasil digitasi kedua untuk pemetaan kerentanan KRB Gempa Bumi Kampus Dhyana Pura berada pada level sedang. Kerentanan Gempa Bumi di Bali disebabkan karena posisi geografisnya yang berada di zona pertemuan lempeng tektonik aktif dan keberadaan sesar (patahan) lokal aktif. Dari hasil penelitian diperoleh Universitas Dhyana Pura Untuk KRB Tsunami berada pada level aman dan KRB Gempa Bumi berada pada level sedang. Kata kunci: Analisa Spasial, Bencana, Gempa, KRB, Mitigasi |
I Gusti Ngurah Manik Nugraha (Universitas Dhyana Pura); Ni Kadek Dwipayani Lestari (Universitas Dhyana Pura); Nyoman Ngurah Adisanjaya (Universitas Dhyana Pura) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4907-4912 [PDF] |
| 111 |
Analisis Perbandingan Linkage Agglomerative Hierarchical Clustering Peningkatan Strategi Pemasaran Galeri Ulos Sianipar
Lihat AbstrakKeragaman harga, volume penjualan, frekuensi transaksi, dan persediaan produk Ulos menimbulkan kebutuhan akan strategi pemasaran yang berbeda sesuai karakteristik setiap produk. Analisis difokuskan pada perbandingan Single Linkage, Complete Linkage, Average Linkage, dan Ward.D2 dalam Agglomerative Hierarchical Clustering sebagai dasar segmentasi produk di Galeri Ulos Sianipar Medan. Sebanyak 161 produk dianalisis menggunakan atribut harga jual, jumlah terjual, frekuensi transaksi, dan stok akhir. Perbedaan skala atribut ditangani melalui standardisasi Z-score, sedangkan kedekatan antarproduk dihitung menggunakan Euclidean Distance. Keempat metode linkage diterapkan untuk membentuk tiga klaster dan dievaluasi berdasarkan Silhouette Score, Davies-Bouldin Index, distribusi anggota, serta kemudahan interpretasi bisnis. Single Linkage menghasilkan Silhouette Score sebesar 0,556650 dan Davies-Bouldin Index sebesar 0,286346, tetapi membentuk distribusi yang sangat timpang, yaitu 1-2-158. Average Linkage dan Complete Linkage juga menghasilkan satu klaster dominan dengan distribusi masing-masing 1-147-13 dan 21-119-21. Ward.D2 memperoleh Silhouette Score sebesar 0,401513 dan Davies-Bouldin Index sebesar 0,799404, tetapi menghasilkan distribusi yang lebih proporsional, yaitu 21, 82, dan 58 produk. Dengan mempertimbangkan keseimbangan anggota, kejelasan centroid, dan relevansi hasil bagi pengambilan keputusan, Ward.D2 ditetapkan sebagai model operasional yang paling sesuai. Klaster yang terbentuk merepresentasikan produk ekonomis berperputaran cepat, produk reguler potensial, dan produk premium dengan penjualan selektif. Segmentasi tersebut mendukung pengendalian persediaan dan bundling, penguatan promosi digital dan edukasi produk, serta pemasaran premium melalui personal selling dan sistem pre-order. |
Romunas Damanik (Universitas Katolik Santo Thomas Medan); Masdiana Sagala (Universitas Katolik Santo Thomas Medan); Novriadi Antonius Siagian (Universitas Katolik Santo Thomas Medan); Anusa Anjani (Universitas Katolik Santo Thomas) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 4 (2026) |
Hal: 5418 – 5429 [PDF] |
| 112 |
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BAWANG MERAH BERKELANJUTAN MELALUI PENGUATAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DI KABUPATEN SOLOK
Lihat AbstrakAbstract: The development of shallot agribusiness is a strategic effort to enhance the competitiveness and sustainability of the horticultural sector in Solok Regency. This study aimed to identify the internal and external factors affecting shallot agribusiness development and to formulate appropriate development strategies using the SWOT approach. The research employed a survey method with a quantitative descriptive approach. Primary data were collected through interviews with 228 shallot farmers and 25 traders selected purposively. Data were analyzed using the Internal Factor Analysis Summary IFAS, EFAS, Internal-External (IE) Matrix, and SWOT Matrix. The results showed that the main strengths of shallot agribusiness include favorable agroclimatic conditions, high product quality, farmers’ experience, and its status as a regional flagship commodity. The major opportunities arise from increasing market demand, government support, agro-industry development, and advances in information technology. The IFAS and EFAS analyses generated scores of 2.90 and 2.92, respectively, placing shallot agribusiness in Cell V of the IE Matrix (Hold and Maintain). Based on the SWOT analysis, the priority strategy identified was the SO (Strengths-Opportunities) strategy, which includes increasing production, developing shallot-based agro-industries, utilizing information technology for marketing, and strengthening the branding of Solok shallots as a regional flagship commodity. These strategies are expected to improve competitiveness and support the sustainable development of shallot agribusiness in Solok Regency. Keywords: Shallot; Agribusiness; SWOT; Competitive Advantage; Sustainability. Abstrak: Pengembangan agribisnis bawang merah merupakan upaya strategis untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor hortikultura di Kabupaten Solok. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan agribisnis bawang merah serta merumuskan strategi pengembangannya melalui pendekatan SWOT. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 228 petani dan 25 pedagang bawang merah yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan Matriks IFAS, EFAS, Matriks Internal-Eksternal (IE), dan Matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama agribisnis bawang merah meliputi kondisi agroklimat yang sesuai, kualitas produk yang baik, pengalaman petani, serta status bawang merah sebagai komoditas unggulan daerah. Peluang utama berasal dari meningkatnya permintaan pasar, dukungan pemerintah, pengembangan agroindustri, dan perkembangan teknologi informasi. Hasil analisis IFAS dan EFAS menghasilkan skor masing-masing sebesar 2,90 dan 2,92 yang menempatkan agribisnis bawang merah pada Sel V Matriks IE (Hold and Maintain). Berdasarkan analisis SWOT, strategi prioritas yang direkomendasikan adalah strategi SO (Strengths-Opportunities), yaitu meningkatkan produksi, mengembangkan agroindustri bawang merah, memanfaatkan teknologi informasi dalam pemasaran, serta memperkuat branding Bawang Merah Solok sebagai komoditas unggulan daerah. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan mendukung keberlanjutan agribisnis bawang merah di Kabupaten Solok. Kata kunci: Bawang Merah; Agribisnis; SWOT; Keunggulan Kompetitif; Keberlanjutan. |
Amri Syahardi (Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh); Merdian Khairad (Politekni Negeri Subang); Fadli Akbar Lubis (Universitas Tidar); Fastabiqul Khairad (Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh); Walmadri (Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4496-4504 [PDF] |
| 113 |
ANALISIS KONVERGENSI DAN EFEKTIVITAS ALGORITMA K-MEANS PADA KLASTERISASI DATA KRIMINALITAS DAN PARTISIPASI KEAMANAN MASYARAKAT DI INDONESIA
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to cluster provinces in Indonesia based on crime rates and community participation in security in 2024. The objective is to determine how effective the K-Means Clustering method is in analyzing this data. This study uses six crime indicators and five indicators of community participation at the provincial level. Before analysis, the data were cleaned and standardized using the Z-Score method. The clustering process employed the K-Means method with Euclidean distance. Cluster quality was evaluated using SSE and the Silhouette Score. The results show that the K-Means algorithm achieved convergence with a stable SSE value. However, determining the optimal number of clusters yielded different results between the Elbow method and the Silhouette Score. After considering stability and interpretability, three clusters were determined to be the optimal result. The clustering results indicate variations in characteristics across provinces regarding crime and community participation. The study also shows that cluster separation is better for crime data than for participation data. Thus, the K-Means Clustering method can be used as an initial mapping of regional security conditions in Indonesia. However, these results are also influenced by data characteristics and the sensitivity of centroid initialization. Keywords: K-Means Clustering, Crime, Community Participation, Elbow Method, Silhouette Score. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia berdasarkan tingkat kriminalitas dan partisipasi masyarakat dalam keamanan pada tahun 2024. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa efektif metode K-Means Clustering dalam menganalisis data ini. Penelitian ini menggunakan enam indikator kriminalitas dan lima indikator partisipasi masyarakat di tingkat provinsi. Sebelum dianalisis, data tersebut dibersihkan dan distandardisasi menggunakan metode Z-Score. Proses pengelompokan menggunakan metode K-Means dengan jarak Euclidean. Kualitas cluster dievaluasi menggunakan SSE dan Silhouette Score. Dari hasil penelitian, algoritma K-Means dapat mencapai konvergensi dengan nilai SSE yang stabil. Namun, penentuan jumlah cluster optimal menunjukkan hasil yang berbeda antara metode Elbow dan Silhouette Score. Setelah mempertimbangkan stabilitas dan interpretasi, ditetapkan bahwa tiga cluster adalah hasil yang optimal. Hasil klasterisasi menunjukkan adanya variasi karakteristik antarprovinsi pada aspek kriminalitas dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemisahan cluster pada data kriminalitas lebih baik dibandingkan data partisipasi. Dengan demikian, metode K-Means Clustering dapat digunakan sebagai pemetaan awal kondisi keamanan wilayah di Indonesia. Namun, hasil ini juga dipengaruhi oleh karakteristik data dan sensitivitas inisialisasi centroid. Kata kunci: K-Means Clustering, Kriminalitas, Partisipasi Masyarakat, Elbow Method, Silhouette Score. |
Cora Angelyna Hermanto (Universitas Sumatera Utara); Katrin Jenny Sirait (Universitas Sumatera Utara) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4449-4456 [PDF] |
| 114 |
IMPLEMENTASI METODE SAW SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PENENTUAN TENAGA PENGAJAR TERBAIK
Lihat AbstrakAbstract: Teaching staff are a key component in determining the quality of education in a course institution. Optimal teaching staff performance will directly impact the quality of learning. However, the process of determining the best teaching staff in many courses is still done subjectively and does not use a measurable and transparent computerized system. Problems that often arise include the many assessment criteria that must be considered, the time-consuming evaluation process, the lack of objectivity in decision-making, and the absence of an integrated system to assist management. To overcome these problems, a Decision Support System (DSS) is needed that can process various criteria systematically. One suitable method is Simple Additive Weighting (SAW), because this method is able to weight and rank alternatives based on predetermined criteria. The SAW method is known as a simple and effective method in assessing alternatives based on predetermined criteria. With clear weights and criteria values, this method is able to provide more objective results in the process of determining the best teaching staff. Fifteen teaching staff were assessed using the SAW Method with five assessment criteria: Length of Service, Discipline, Innovation, Loyalty, and Teaching Methods. Based on these calculations, the alternative that is entitled to receive a reward is A14 with the highest Vi value of 0,92. Keywords: SAW Method, Decision Support System, Instructor Abstrak: Tenaga pengajar merupakan komponen utama dalam menentukan kualitas pendidikan di suatu lembaga kursus. Kinerja tenaga pengajar yang optimal akan berdampak langsung pada mutu pembelajaran. Namun, proses penentuan tenaga pengajar terbaik di banyak kursus masih dilakukan secara subjektif dan belum menggunakan sistem terkomputerisasi yang terukur dan transparan. Permasalahan yang sering muncul antara lain antara lain banyaknya kriteria penilaian yang harus dipertimbangkan, proses evaluasi yang memakan waktu, kurangnya objektivitas dalam pengambilan keputusan, serta tidak adanya sistem yang terintegrasi untuk membantu manajemen.Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang mampu mengolah berbagai kriteria secara sistematis. Salah satu metode yang sesuai adalah Simple Additive Weighting (SAW), karena metode ini mampu melakukan pembobotan dan perangkingan alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Metode SAW dikenal sebagai metode yang sederhana dan efektif dalam menilai alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Dengan bobot dan nilai kriteria yang jelas, metode ini mampu memberikan hasil yang lebih objektif dalam proses penentuan tenaga pengajar terbaik. Ada lima belas orang tenaga pengajar yang dinilai menggunakan Metode SAW dengan lima kriteria penilaian yaitu Lama Bekerja, Kedisiplinan, Inovasi, Loyalitas dan Metode Pengajaran. Berdasarkan perhitungan tersebut alternatif yang berhak mendapatkan reward adalah adalah A14 dengan nilai Vi tertinggi adalah 0,92. Kata Kunci: Metode SAW, Sistem Pendukung Keputusan, Tenaga Pengajar |
Anggi Wulandari (Universitas Royal); Amalia (Universitas Royal); Masitah Handayani (Universitas Royal); Masitah Handayani (Universitas Royal); Masitah Handayani (Universitas Royal); Masitah Handayani (Universitas Royal) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4442-4448 [PDF] |
| 115 |
DAMPAK PENERAPAN IFRS TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN: BUKTI EMPIRIS CROSS-COUNTRY PADA NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG
Lihat AbstrakAbstract: IFRS as a global financial reporting standard is expected to enhance the transparency, relevance, and comparability of accounting information across countries. However, its implementation shows varying outcomes depending on each country’s institutional environment. This study employs a qualitative approach using a library research method by analyzing various international scientific literature, IFRS Foundation reports, and relevant previous studies. The findings indicate that the adoption of IFRS generally reduces earnings management practices by increasing disclosure levels and limiting flexibility in financial reporting. In addition, IFRS contributes to improving financial reporting quality, as reflected by increased relevance and comparability of accounting information. Nevertheless, these effects are not uniform across countries, as they are influenced by institutional factors such as legal system quality, regulatory enforcement effectiveness, and corporate governance practices. Developed countries tend to gain greater benefits from IFRS implementation compared to developing countries. In conclusion, IFRS plays an important role in enhancing global financial reporting quality; however, its effectiveness largely depends on the institutional environment of each country. Therefore, international accounting harmonization should be accompanied by strong regulatory and institutional support to achieve optimal outcomes. Keywords: Earnings Management, Financial Reporting Quality, International Accounting Abstrak: IFRS sebagai standar pelaporan keuangan global diharapkan mampu meningkatkan transparansi, relevansi, dan keterbandingan informasi akuntansi di berbagai negara. Namun, implementasinya menunjukkan hasil yang bervariasi tergantung pada kondisi institusional masing-masing negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur ilmiah internasional, laporan IFRS Foundation, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan IFRS secara umum mampu menurunkan praktik manajemen laba melalui peningkatan tingkat pengungkapan dan pengurangan fleksibilitas dalam pelaporan keuangan. Selain itu, IFRS juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelaporan keuangan yang ditandai dengan meningkatnya relevansi dan keterbandingan informasi akuntansi. Namun demikian, dampak tersebut tidak bersifat seragam di semua negara, karena dipengaruhi oleh faktor institusional seperti kualitas sistem hukum, efektivitas pengawasan, dan tata kelola perusahaan. Negara maju cenderung memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan negara berkembang dalam implementasi IFRS. Kata Kunci: Manajemen Laba, Kualitas Pelaporan Keuangan, Akuntansi Internasional |
Junita Putri Rajana Harahap (Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah); Azror Anwar Nasution (Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah); Khairina (Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah); Olivia Gabriella Gunawan (Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4435-4441 [PDF] |
| 116 |
GREEN HUMAN RESOURCE MANAGEMENT, GREEN INNOVATION, DAN SUSTAINABLE PERFORMANCE DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN BERKELANJUTAN: SEBUAH LITERATURE REVIEW
Lihat AbstrakAbstract: The development of sustainability issues has encouraged organizations to integrate economic, social, and environmental aspects into their business strategies. Green Human Resource Management (GHRM) has emerged as a strategic approach that integrates human resource management practices with an organization's environmental goals. Green Innovation, on the other hand, has become a crucial tool in producing more environmentally friendly products and processes, while Sustainable Performance is an indicator of an organization's success in achieving long-term sustainability. This article aims to conduct a literature review on the relationship between Green Human Resource Management, Green Innovation, and Sustainable Performance from a sustainable management perspective. The study's findings indicate that GHRM practices play a role in building employee green competencies and behaviors, which in turn drive Green Innovation. Green Innovation has been shown to be a mediating mechanism that strengthens the influence of GHRM on Sustainable Performance. Therefore, the integration of GHRM and Green Innovation is a crucial strategy for enhancing organizational competitiveness and sustainability. Keywords: Green Human Resource Management, Green Innovation, Sustainable Performance, Sustainability, Sustainable Management. Abstrak: Perkembangan isu keberlanjutan telah mendorong organisasi untuk mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan ke dalam strategi bisnis. Green Human Resource Management (GHRM) muncul sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan praktik manajemen sumber daya manusia dengan tujuan lingkungan organisasi. Di sisi lain, Green Innovation menjadi instrumen penting dalam menghasilkan produk dan proses yang lebih ramah lingkungan, sedangkan Sustainable Performance merupakan indikator keberhasilan organisasi dalam mencapai keberlanjutan jangka panjang. Artikel ini bertujuan melakukan kajian literatur mengenai hubungan antara Green Human Resource Management, Green Innovation, dan Sustainable Performance dalam perspektif manajemen berkelanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik GHRM berperan dalam membangun kompetensi dan perilaku hijau karyawan yang selanjutnya mendorong Green Innovation. Green Innovation terbukti menjadi mekanisme mediasi yang memperkuat pengaruh GHRM terhadap Sustainable Performance. Dengan demikian, integrasi GHRM dan Green Innovation menjadi strategi penting dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan organisasi. Kata Kunci: Green Human Resource Management, Green Innovation, Sustainable Performance, Sustainability, Manajemen Berkelanjutan |
Siti Mujiatun (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara); Jufrizen (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara); Abdul Rahim Siregar (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara); Mutia Nurhalizah (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara); Sarida Sirait (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; Universitas Murni Teguh); Sarida Sirait (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; Universitas Murni Teguh); Sarida Sirait (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; Universitas Murni Teguh); Sarida Sirait (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; Universitas Murni Teguh) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4398-4407 [PDF] |
| 117 |
MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN ANGSANA DAN SUNGAI LOBAN BERBASIS SOSIO-EKOLOGIS DI KABUPATEN TANAH BUMBU, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to develop an effective and sustainable management model for Marine Protected Areas (MPAs) based on a socio-ecological system by positioning coastal community participation as a mediating variable. The research was conducted in the Angsana and Sungai Loban coastal areas, Tanah Bumbu Regency, South Kalimantan, Indonesia. A quantitative approach was employed using Structural Equation Modeling based on Partial Least Squares (SEM-PLS). The variables analyzed include institutional management, anthropogenic pressure, community participation, ecological conditions, and sustainable economy. The results indicate that institutional management has a positive and significant effect on ecological conditions (β = 0.438; p < 0.001), while anthropogenic pressure exerts a dominant influence on the system, particularly on social performance (β > 1.00; p < 0.001) and sustainable economy (β = 0.388; p < 0.001). Coastal community participation was not found to be significant as a mediating variable, whereas ecological conditions act as a significant primary mediator in the relationship between exogenous variables and sustainable economy. The R-square values demonstrate strong explanatory power of the model for endogenous variables, reaching 0.952 (Y1), 1.000 (Y2), and 0.568 (Z). This study produces an integrated, adaptive, and sustainable MPA management model, positioning institutional management as the driving force, anthropogenic pressure as the main stressor, ecological conditions as the key variable, and sustainable economy as the ultimate goal. The model emphasizes that coastal economic sustainability is highly dependent on ecosystem quality, which must be effectively managed through strong governance and control of human-induced pressures. The findings highlight the importance of strengthening institutional capacity, controlling anthropogenic pressures, and protecting ecosystems to ensure successful MPA management. The proposed model can serve as a reference for policy formulation in socio-ecological-based marine conservation management at both regional and national levels. Keywords: Marine Protected Areas, socio-ecological system, SEM-PLS, anthropogenic pressure, institutional management, sustainable economy. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang efektif dan berkelanjutan berbasis sistem sosio-ekologis dengan menempatkan partisipasi masyarakat pesisir sebagai variabel mediasi. Penelitian dilakukan di wilayah Kawasan perairan Angsana dan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Variabel yang dianalisis meliputi manajemen kelembagaan, tekanan antropogenik, partisipasi masyarakat, kondisi ekologis, dan ekonomi berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kelembagaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kondisi ekologis (β = 0,438; p < 0,001), sementara tekanan antropogenik memiliki pengaruh dominan terhadap sistem, khususnya terhadap kinerja sosial (β > 1,00; p < 0,001) dan ekonomi berkelanjutan (β = 0,388; p < 0,001). Partisipasi masyarakat pesisir tidak terbukti signifikan sebagai variabel mediasi, sedangkan kondisi ekologis berperan sebagai mediator utama yang signifikan dalam hubungan antara variabel eksogen dan ekonomi berkelanjutan. Nilai R-square menunjukkan kemampuan model yang tinggi dalam menjelaskan variabel endogen, yaitu sebesar 0,952 (Y1), 1,000 (Y2), dan 0,568 (Z). Penelitian ini menghasilkan model pengelolaan KKP yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan dengan menempatkan manajemen kelembagaan sebagai pengarah, tekanan antropogenik sebagai faktor tekanan utama, kondisi ekologis sebagai variabel kunci, dan ekonomi berkelanjutan sebagai tujuan akhir. Model ini menegaskan bahwa keberlanjutan ekonomi pesisir sangat bergantung pada kualitas ekosistem yang dikelola secara efektif melalui tata kelola yang kuat dan pengendalian tekanan manusia. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya penguatan kelembagaan, pengendalian tekanan antropogenik, serta perlindungan ekosistem dalam mendukung keberhasilan pengelolaan system konservasi perairan. Model yang dihasilkan dapat menjadi acuan dalam perumusan kebijakan pengelolaan KKP berbasis system sosial-ekologis di tingkat daerah maupun nasional. Kata kunci: Kawasan konservasi perairan, system sosio-ekologis, SEM-PLS, tekanan antropogenik, kelembagaan, ekonomi berkelanjutan. |
Sherly Ridhowati Nata Imam (Universitas Sriwijaya); Kasful Anwar (Universitas Terbuka); Eko Prio Raharjo (Universitas Terbuka) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4387-4397 [PDF] |
| 118 |
CHATGPT AS A LEARNING COMPANION: NURSING STUDENTS' PERCEPTIONS OF GENERATIVE AI IN ENGLISH FOR NURSING PURPOSES USING PHENOMENOLOGICAL APPROACH
Lihat AbstrakAbstract: This study explored nursing students’ perceptions of using ChatGPT in learning English for Nursing Purposes at Universitas Klabat. As English proficiency is essential for understanding medical terminology, academic nursing literature, clinical documentation, and patient communication, nursing students need language support that is relevant to their professional field. This study employed a qualitative research design using a phenomenological approach to understand students’ lived experiences with ChatGPT as an AI-assisted learning tool. Data were collected through semi-structured interviews with nursing students who had experience using ChatGPT for English learning activities. The data were analyzed using thematic analysis following Braun and Clarke’s six-step framework. The findings revealed four major themes from 8 informants interview. First, students experienced ChatGPT as an accessible learning companion that supported their understanding of nursing vocabulary, medical terminology, English articles, grammar, academic writing, and patient communication. Second, ChatGPT provided efficiency and empowerment by helping students access information quickly, complete academic tasks more easily, and increase their confidence in using English. Third, students recognized limitations and risks, including inaccurate responses, inappropriate translations, fabricated references, technical constraints, and possible dependence on AI. Fourth, students developed a more critical and responsible approach by verifying AI-generated information, using trusted references, improving prompt quality, and avoiding direct copy-paste practices. Overall, the study concludes that ChatGPT can be a useful supplementary tool for learning English in nursing education when used critically, ethically, and in combination with reliable academic sources. Keywords: ChatGPT, English for Nursing Purposes, nursing students, artificial intelligence, phenomenology, English language learning Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa keperawatan terhadap penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran English for Nursing Purposes di Universitas Klabat. Kemampuan berbahasa Inggris sangat penting bagi mahasiswa keperawatan karena berkaitan dengan pemahaman istilah medis, literatur akademik keperawatan, dokumentasi klinis, serta komunikasi dengan pasien. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup mahasiswa dalam menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran berbasis kecerdasan buatan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa keperawatan yang memiliki pengalaman menggunakan ChatGPT dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris. Data dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan enam tahapan Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, mahasiswa memandang ChatGPT sebagai pendamping belajar yang mudah diakses, terutama dalam memahami kosakata keperawatan, istilah medis, artikel berbahasa Inggris, tata bahasa, penulisan akademik, dan persiapan komunikasi dengan pasien. Kedua, ChatGPT memberikan efisiensi dan pemberdayaan karena membantu mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat, menyelesaikan tugas akademik dengan lebih mudah, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Ketiga, mahasiswa menyadari adanya keterbatasan dan risiko, seperti jawaban yang kurang akurat, terjemahan yang tidak sesuai, referensi yang tidak dapat ditemukan, kendala teknis, serta kemungkinan ketergantungan pada AI. Keempat, mahasiswa mengembangkan penggunaan ChatGPT yang lebih kritis dan bertanggung jawab melalui verifikasi informasi, penggunaan sumber terpercaya, penyusunan prompt yang lebih jelas, dan menghindari praktik menyalin jawaban secara langsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ChatGPT dapat menjadi alat bantu tambahan yang bermanfaat dalam pembelajaran bahasa Inggris keperawatan apabila digunakan secara kritis, etis, dan dikombinasikan dengan sumber akademik yang terpercaya. Kata kunci: ChatGPT, English for Nursing Purposes, mahasiswa keperawatan, kecerdasan buatan, fenomenologi, pembelajaran bahasa Inggris |
Shapely Ambalao (Universitas Klabat); Stephanie Tauran (Universitas Klabat); Grace Fresania Kaparang (Universitas Klabat) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4376-4386 [PDF] |
| 119 |
ANALISI DETERMINAN KEBERLANJUTAN BUDIDAYA IKAN HIAS GUPPY (Poecilia reticulata) DALAM MANAJEMEN REPRODUKSI AKUAKULTUR
Lihat AbstrakAbstract: The sustainability of guppy fish (Poecilia reticulata) aquaculture is an important aspect in supporting environmentally friendly and economically viable aquaculture development. This study aimed to analyze the determinants of sustainability in guppy fish farming based on social, economic, ecological, production technology, and reproductive management dimensions using the Multi Dimensional Scaling (MDS) approach with the RAPFISH method. Data were collected through field observations, interviews, and questionnaires, and subsequently analyzed to obtain sustainability indices, leverage values, and model reliability through Monte Carlo analysis. The results showed that all assessed dimensions were classified as moderately sustainable. The sustainability index values were 68.84 for the social dimension, 61.50 for the economic dimension, 62.60 for the ecological dimension, 59.01 for production technology, and 61.55 for reproductive management. Monte Carlo analysis indicated stable results, with small differences between rapscore and simulation values ranging from 0.06 to 1.74. The coefficient of determination (R²) ranged from 0.93 to 0.96, and stress values were low (0.13–0.16), indicating that the MDS model was reliable and had good accuracy. Among all dimensions, production technology showed the lowest sustainability index, suggesting the need for improvement in technology application, production efficiency, and environmental management. Overall, the results indicate that the sustainability of guppy aquaculture can be enhanced through integrated management focusing on technological improvement, environmental control, and optimized reproductive management supported by social and economic considerations. Keywords: sustainability, guppy aquaculture, MDS, RAPFISH, reproductive management, aquaculture. Abstrak: Keberlanjutan budidaya ikan hias guppy (Poecilia reticulata) merupakan aspek penting dalam mendukung pengembangan akuakultur yang ramah lingkungan dan berdaya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis factor determinan keberlanjutan budidaya ikan guppy berdasarkan dimensi sosial, ekonomi, ekologi, teknologi produksi, dan manajemen reproduksi menggunakan metode RAPFISH. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis untuk menghasilkan indeks keberlanjutan, nilai leverage, serta uji keandalan model melalui analisis Monte Carlo. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan, dengan nilai indeks keberlanjutan masing-masing sebesar 68,84 pada dimensi sosial, 61,50 pada dimensi ekonomi, 62,60 pada dimensi ekologi, 59,01 pada dimensi teknologi produksi, dan 61,55 pada dimensi manajemen reproduksi. Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan nilai yang relatif mendekati rapscore, dengan selisih berkisar antara 0,06–1,74, yang menandakan kestabilan hasil analisis. Nilai koefisien determinasi (R²) yang tinggi, yaitu antara 0,93–0,96, serta nilai stress yang rendah (0,13–0,16), menunjukkan bahwa model MDS yang digunakan memiliki tingkat keandalan dan ketepatan yang baik. Dimensi teknologi produksi memiliki nilai indeks terendah, mengindikasikan perlunya peningkatan dalam penerapan teknologi budidaya, efisiensi produksi, serta pengelolaan kualitas lingkungan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan budidaya ikan guppy dapat ditingkatkan melalui penguatan teknologi. produksi, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta optimalisasi manajemen reproduksi yang terintegrasi dengan aspek sosial dan ekonomi. Kata kunci: keberlanjutan, budidaya ikan guppy, MDS, RAPFISH, manajemen reproduksi, akuakultur. |
Muslim (Universitas Sriwijaya); Kasful Anwar (Universitas Terbuka); M. Amin Haitami (Universitas Terbuka) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4368-4375 [PDF] |
| 120 |
EVALUASI KURIKULUM TVET BERBASIS INDUSTRI: PENGUATAN LINK AND MATCH MELALUI INOVASI TEKNOLOGI DAN KETERLIBATAN STRATEGIS INDUSTRI
Lihat AbstrakAbstract: This study aims to evaluate the effectiveness of an industry based Technical Vocational Education and Training (TVET) curriculum through the enhancement of link-and-match programs, technological innovation, and strategic industry engagement. A Systematic Literature Review (SLR) approach was employed following the PRISMA 2020 guidelines. Data were collected from reputable databases, including Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar, and Crossref, covering publications from the last ten years. An initial search identified approximately 500 articles, which were subsequently screened through the stages of identification, screening, eligibility, and inclusion, resulting in 20 high-quality and relevant studies. The selected articles served as the foundation for developing a conceptual evaluation model and operationalizing the research variables. Furthermore, Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) was utilized to examine the relationships among strategic industry engagement, technological innovation, link-and-match programs, and TVET curriculum effectiveness. The findings reveal that strategic industry engagement contributes 42.1%, technological innovation 35.6%, and link-and-match programs 39.4% to curriculum effectiveness, with a coefficient of determination (R²) of 74.2%, indicating strong explanatory power. These results highlight that sustained industry collaboration, adaptive technological integration, and systematic implementation of link-and-match initiatives are critical factors in enhancing curriculum relevance and graduate employability. This study provides both theoretical and practical insights for developing responsive, sustainable, and industry-aligned TVET curricula capable of addressing the evolving demands of the modern workforce. Keywords: TVET Curriculum Evaluation, Industry Engagement, Technological Innovation Link and Match Program, Curriculum Effectiveness. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kurikulum Technical Vocational Education and Training (TVET) berbasis industri melalui penguatan program link and match, inovasi teknologi, dan keterlibatan strategis industri. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Data diperoleh dari basis data Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar, dan Crossref dengan rentang publikasi sepuluh tahun terakhir. Dari sekitar 500 artikel yang teridentifikasi, proses seleksi melalui tahapan identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi menghasilkan 20 artikel utama yang relevan dan berkualitas. Temuan kajian literatur digunakan untuk membangun model konseptual evaluasi kurikulum TVET berbasis industri serta operasionalisasi variabel penelitian. Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji pengaruh keterlibatan strategis industri, inovasi teknologi, dan program link and match terhadap efektivitas kurikulum TVET. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan strategis industri memberikan kontribusi sebesar 42,1%, inovasi teknologi sebesar 35,6%, dan program link and match sebesar 39,4%, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 74,2%. Temuan ini menegaskan bahwa kolaborasi industri yang berkelanjutan, integrasi teknologi yang adaptif, dan implementasi link and match yang sistematis merupakan faktor utama dalam meningkatkan relevansi kurikulum serta kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan industri modern. Kata kunci: Evaluasi Kurikulum TVET Berbasis Industri, Penguatan Link and Match Inovasi Teknologi, Keterlibatan Strategi Industri. |
Wakhinuddin (Universitas Negeri Padang); Muhammad Anwar (Universitas Negeri Padang); Jimmi Zamora (Universitas Negeri Padang); Meiyaldi Eka Putra (Universitas Lancang Kuning); Fajar Maulana (Universitas Lancang Kuning); Fajar Maulana (Universitas Lancang Kuning); Fajar Maulana (Universitas Lancang Kuning); Fajar Maulana (Universitas Lancang Kuning) |
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 9 No 3 (2026) |
Hal: 4358-4367 [PDF] |